Semua Berawal dari Niat
02 Jul 2010 7 Comments
“It is all about our decision.” Pelajaran berharga itulah yang saya dapatkan dari satu jam yang tak ternilai bersama Ibu Fenny Mustafa, pendiri “Shafira” sekaligus pelopor rumah mode busana Muslimah pertama di Indonesia pada hari Jumat/ 12 Maret 2010 yang lalu. Dengan berbekal ketertarikan saya terhadap desain, terbersit keinginan untuk menjadikan Ibu dari dua orang putra ini sebagai salah satu icon untuk profil wirausaha sukses. Ditemui di salah satu Shafira House, Jl. Sulanjana No. 27, saya melihat sesosok yang sederhana, tapi memancarkan karakter yang kuat, dan satu jam yang singkat semakin menambah kekaguman saya pada sosok beliau.
Semua orang tahu bagaimana sepak terjang Ibu yang bernama lengkap Zulfaeny Mustafa ini. Berbagai halaman website sebagai media informasi, baik dari blog ataupun liputan berita, dimana saya juga mencari tahu lebih dalam mengenai profil tentang Ibu Fenny, telah menjelaskan secara detail dan terperinci bagaimana beliau mulai merintis karirnya di bidang desain busana muslimah yang pada awalnya dianggap tidak modis hingga menjadi icon trend busana muslim yang terkenal baik di kalangan nasional maupun internasional.
Namun, di sini saya ingin menyampaikan ada empat hal utama yang menurut Ibu Fenny harus dimiliki oleh seorang wirausaha.
Pertama yaitu Kreativitas.
Bukan keahlian khusus yang dimiliki Ibu Fenny pada tata busana yang melatarbelakangi sejarah berdirinya Shafira hingga terlihat kemilau seperti sekarang ini. Namun, niat yang mulia yaitu ingin berdakwah dengan mengubah image busana muslimah yang dipandang sebelah mata, menjadi batu pijakan Ibu Fenny dan beberapa orang temannya untuk memulai bisnisnya tersebut tahun 1989. Awal produksi dikerjakan dengan bantuan beberapa penjahit yang dikenal baik oleh beliau dan awal promosi dilakukan dengan meminjamkan kepada teman-temannya untuk digunakan pada acara-acara tertentu. Kemudian, ide kreatif mengadakan fashion show di berbagai tempat dan membuka showroom membuat orang-orang tertarik dan membuka mata pada fashion busana muslimah. Segmentasi pasar juga beliau perhitungkan dengan mempromosikan Shafira untuk kalangan menengah ke atas.
Nama Shafira pun diambil dari bahasa Arab “Shaf” yang artinya barisan yang kokoh dan rapi yang menunjukkan salah satu karakter dakwah. Selain itu, kata Shafira juga terinspirasi dari batu Shafir yang memiliki kemilau biru indah sehingga beliau berharap busana Shafira yang dipakai oleh para muslimah mengesankan kelembutan dan keanggunan.
Jadi, kreatiflah dalam melihat pangsa pasar dan menciptakan suatu produk yang tidak hanya bernilai, tetapi memiliki keunikan di dalamnya.
Kedua yaitu Berani dan Bertanggungjawab
Perjuangan Shafira juga melalui pasang surut dengan melalui periode krisis ekonomi, yaitu pada tahun 1998, tetapi tidak menyurutkan langkah Ibu Fenny untuk terus maju. Keadaan terpuruk sempat beliau rasakan dimana omset penjualan menurun drastis sehingga Ibu Fenny mengalami kesulitan untuk membayar pinjaman modal dari orang-orang terdekatnya. Namun, bukan lari dari masalah yang diambil sebagai jalan penyelesaian, melainkan beliau dengan jiwa yang besar memberanikan diri untuk mendatangi satu persatu pihak yang bersangkutan dan menjelaskan keadaannya. Walaupun raut kecewa terpancar, namun teman-teman beliau tersebut mendukung penuh usahanya. Amanah tersebut menjadi tanggungjawab beliau untuk bersemangat mengembangkan Shafira yang memiliki mimpi menjadikan Indonesia sebagai pusat mode busana muslimah dunia.
Jadi, berani dan bertanggungjawab terhadap keputusan yang telah diambil adalah penyelesaian yang lebih baik daripada lari dari masalah.
Ketiga yaitu Jaringan yang Luas
Memiliki uang sendiri bukan menjadi modal utama untuk memulai suatu usaha. Sebelum memulai kariernya di bidang bisnis, Ibu Fenny aktif di kegiatan kerohanian di Masjid Salman di Kompleks Kampus Institut Teknologi Bandung. Dari pergaulan dan diskusi intensif dengan teman-teman komunitas Masjid Salman itu timbul semangat untuk menyiarkan busana muslimah agar dihargai masyarakat. Gagasan untuk membuat desain busana muslimah yang menarik didukung oleh teman-teman seperjuangannya baik berupa modal uang, pinjaman alat jahit, membantu kerja paruh waktu, bahkan doa. Showroom dan kegiatan fashion show yang diadakan di beberapa tempat juga merupakan hasil dari antusiasme relasi-relasi beliau terhadap prospek ke depan dari Shafira.
Jadi, kepercayaan harus dibangun jauh sebelumnya dengan silaturahmi yang merupakan kunci pembuka pintu-pintu rezeki kita di kemudian hari.
Keempat yaitu Jiwa Kepemimpinan
Awal usaha dijalankan Ibu Fenny dengan keringatnya sendiri. Namun, mulai tahun 1990, dengan bantuan para kolega beliau, Shafira dikelola secara profesional dengan sistem manajemen yang telah tertata dengan baik. Ibu Fenny duduk sebagai komisaris utama, sedangkan presiden direktur dipegang oleh Bapak Gilarsi Wahyu Setijono, alumni Teknik Kimia ITB dan juga merupakan mentor beliau ketika masih aktif di Masjid Salman dahulu yang cukup lama berkiprah di perusahaan multinasional.
Saat ini, Shafira telah memiliki lebih dari 20 Showroom yang terdapat di kota-kota besar serta lebih dari 40 Outlet kerjasama dengan Departement Store yang tersebar hampir di seluruh Indonesia. Shafira juga telah membidik segmen menengah-bawah dengan desain baju siap pakai dengan membuka Francise Market seperti Famous, Lamara, dan Zoya yang cabangnya telah tersebar luas di seluruh Indonesia. Selain itu, Marketing Shafira juga telah menjangkau kawasan Asia Tenggara terutama Malaysia dan bersiap untuk ekspansi ke negara-negara Eropa terutama Prancis.
Jadi, tidaklah mutlak harus memiliki semua keahlian untuk mengembangkan suatu usaha, namun jiwa kepemimpinan yang menjadikan semuanya menjadi suatu yang sinergis dan dapat bekerjasama dengan baik.
***
Honestly, I did not think a Muslim runway show could exist and my feelings towards this new event are mixed. My first reaction is: how can you want to hide women, their hair, their body, their curves, and still be a fashion designer? In my eyes, fashion is not first here to conceal but to reveal, to enhance, to make more beautiful, and in some Muslim sensitivities at least, it seems that the garment is here to erase the body, to hide the personality, to reserve its beauty to a very private sexual usage only.
(Jean Paul Cauvin)
Semangat dan kreativitas Ibu Fenny mematahkan argumen dari Jean Paul Cauvin yang memandang busana muslimah sebagai produk yang tidak bernilai jual.
Mengikuti trend dunia adalah hal yang baik dilakukan agar kita tidak dipandang sebagai orang yang ketinggalan zaman. Namun berbusana modis, tetapi tetap syar’i adalah hal utama yang harus diperhatikan oleh para muslimah untuk menunjukkan identitas kita sebagai umat beragama.
280310
01 Jul 2010 3 Comments

2006
Aku hanya menangkap sosok yang lewat didepanku sedang bersama temannya
Mungkin karena kau terlihat eye catching
Tapi hanya sebatas itu, akupun melupakannya
Sibuk dengan hari-hari pertamaku di dunia yang baru
2007
Pertama berkenalan denganmu di kepanitiaan
Aku menganggap kau sama dengan yang lain
Mau kau sebegitu menariknya buat yang lain
Tetap aku berpikir aku tidak mau berurusan denganmu
Awal yang tidak terlalu menarik perhatian
Namun, orang di sekitarku selalu membicarakanmu
Hingga akhirnya akupun tertarik untuk mengenalmu lebih dalam
Mencari rahasia tersembunyi dari sosok yang dianggap sempurna
Dan tanpa sadar akupun ikut terperosok ke dalamnya
2008
Bimbang dengan keputusanku
Sedih dengan jalan yang kuambil
Karena dulu pun aku pernah mengalami hal yang serupa
Menerka-nerka apakah jalan ini yang harus tetap kulalui
Hingga di suatu titik akupun mulai jenuh
Aku berusaha melepas keingintahuanku dan pergi menjauh
Namun, tetap saja, perasaan tidak bisa dipaksa untuk datang atau pergi begitu saja
Di saat itulah aku mengetahui kekuranganmu dan menerimamu ada di hatiku
2009
Aku tidak tahu bagaimana awal itu bisa ada
Kau seperti datang kembali dalam hidupku
Dan aku menerimanya begitu saja
Mungkin karena perasaan itu telah ada sebelumnya
Hingga akhirnya kita membuat satu cerita bersama
2010
1 tahun…
2 kali kegagalan
berpuluh kali kekhilafan
seratus kali ketidaktahuan
beribu kali ketidakpercayaan
semuanya membuatku belajar…
belajar mengetahui ketidaksempurnaan
belajar memahami ketidaksempurnaan
belajar memaknai ketidaksempurnaan
namun berusaha untuk bisa saling menjadi yang terbaik
Entah apa yang Tuhan garistangankan untuk kita„,
hanya berharap bahwa jalan ini tidak salah dan sia-sia
walaupun terlihat berat dan berliku
dari kerikil tajam hingga bongkahan batu besar
semua masalah pasti ada penyelesaiannya
yang aku inginkan hanya kau bisa kupercayai dan kau mempercayaiku
biarkan Allah terus menjaga hati-hati ini„,
goresan itu akan tetap tertintakan
walaupun jika pada akhirnya takdir berbicara tidak
tapi, aku bersyukur bahwa aku pernah mengenalmu„,
Franz Wilhelm Junghuhn (1809 – 1864)
01 Jul 2010 2 Comments
Selama 19 tahun, Franz Wilhem Junghuhn yang dianggap sebagai “Humbolt pulau Jawa” mengabdikan dirinya pada alam tanah Jawa yang dianggapnya sebagai rumah kedua dan telah menghasilkan banyak penemuan-penemuan penting, salah satunya ditulis dan digambar dalam bukunya “ Lukisan Alam Jawa” yang memiliki kontribusi cukup besar bagi kenyataan-kenyataan ilmiah mengenai pulau Jawa saat ini. Selain itu, penjelasannya yang rinci dalam bukunya “Tanah Batak di Sumatera” yang diterbitkan dalam dua bahasa Jerman dan Belanda, menjadi pelopor bagi perubahan besar kebudayaan masyarakat Batak saat ini. Peringatan 200 tahun Junghuhn di Bandung diprakarsai oleh Goethe Institute Bandung yang bekerjasama dengan Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB dalam Simposium (19-20/10/09) dan Pameran (19-31/10/09) “200 Tahun Peneliti Pulau Jawa, Franz Wilhem Junghuhn (1809 – 1864)”.
Simposium yang bertempat di ruang Auditorium Campus Center ITB diselenggarakan selama dua hari dan dihadiri oleh pembicara yaitu pada hari Senin (19/10/09, 08.30 – 16.30) yang terdiri dari Heinz Schütte (Jerman) “Franz Junghuhn – Gambaran Seorang Peneliti Alam Muda”, Renate Sternagel (Jerman) “Penelitian Franz Junghuhn di Pulau Jawa 1836 – 1848”, Dr. Taufikurrahman (ITB) “Jasa Junghuhn dalam Produksi Kina di Jawa, dan Gerhard Aust (Jerman) “ Kartografi Junghuhn tentang Jawa dan Sumatra” dan pada hari Selasa (20/10/09, 08.30 – 13.30) yang terdiri dari Johann Angerler (Belanda) “Filosofi Alam Junghuhn” dan Thilo Habel (Jerman) “Begitulah Alam Satu dari Semesta – Litografi dan Gambar Cetak Kayu Ilmiah Junghuhn”. Sedangkan pameran yang bertempat di ruang pameran lantai 2 Campus Center ITB diselenggarakan selama 13 hari dari Senin (19/10/09) s/d Sabtu (31/10/09) yang dibuka dari pukul 09.00 s/d 16.00 WIB.
Lahir pada 26 Oktober 1809 di kota Mansfeld, Jerman, dari seorang ayah yang berwatak keras dan seorang ibu yang lemah lembut, menjadikan Junghuhn seorang yang juga berwatak keras, berkepribadian bebas dan tidak suka terikat, dan bersifat penyendiri. Kecintaannya pada pengetahuan alam, menyebabkan kuliah kedokterannya berjalan kurang baik karena Junghuhn lebih fokus untuk merancang buku tentang mikologi (ilmu jamur-red) dan botani (ilmu tumbuhan-red). Setelah lulus ujian kedokteran dan berkiprah sebagai seorang dokter militer kelas III pada pasukan kolonial Belanda, mengantarkan Junghuhn tiba di Batavia (sekarang Jakarta-red) pada 13 Oktober 1835. Namun, ketertarikannya pada bidang botani terutama mikologi mendorongnya untuk melakukan ekspedisi di beberapa tempat di Yogyakarta (seperti: pantai selatan, Rongkop Imogiri, Prambanan, Salatiga, Magelang, Borobudur) dan Jawa Barat (seperti: Pelabuhan Ratu, Priangan, Cirebon).
Setelah lulus ujian dokter militer kelas II di Batavia, Junghuhn tinggal di Tanah Priangan (Cianjur, Pangalengan, Lembang, Garut) dan menyusun manuskipnya tentang Tanah Batak yang dapat diterbitkan dalam bahasa Belanda (1844) dan bahasa Jerman (1847). Artikelnya yang berjudul “Beiträge zur Geschichte der javanischen Vulkane (Sumbangan untuk Sejarah Gunung-Gunung Vulkanik di Jawa-red)”, diterbitkan oleh van Hoevell yang dimuat dalam Tijdschrift voor Neerlands Indie (TNI), namun menjadi pemicu konfrontasi dengan ahli holtikultural Taman Botani Bogor, Johan Elias Teysmann, yang Junghuhn sudah menganggapnya sebagai “Professor of Vegetables (Profesor Sayuran-red). Penelitiannya di Jawa Tengah yang dihabiskannya selama setahun penuh, menerbitkan buku pertamanya yaitu “Topographische und naturwissenschaftliche Reisen (Perjalanan Topografi dan Ilmu Alam-red)”.
Kesehatan Junghuhn yang menurun, menyebabkan ia harus kembali ke Eropa pada tahun 1848. Selama tujuh tahun bermukim di Belanda, Junghuhn melakukan analisis gambar-gambarnya tentang Jawa dan menerbitkan edisi pertama maha karyanya dalam bahasa Jerman (1852) dengan judul “Java, seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart (Jawa, Sosoknya, Ragam Tanaman dan Komposisi Internal-red)” dan menyusul edisi kedua yang diperbanyak dan diperbaharui (1854). Disamping karya berupa manuskrip Buku – Jawa dan Gambar Peta Jawa Besar, karya terbesar Junghun adalah publikasinya mengenai pandangan hidup dan gagasan ritual tentang gereja dan agama. Dalam nukilan yang berjudul “Licht – en schaduwbeelden uit de Binnenlanden van Java” (1854) yang diterbitkan secara anonim berisi tentang pengakuan Junghuhn sebagai seorang pantheis sejati. Junghuhn menulis bahwa hanya alam semata baginya yang merupakan “Mata air segala keberanian” dan satu-satunya “Wahyu Illahi”. Pengantar ajaran Kristen di Jawa ia tolak yang membuat murka imam Belanda sehingga Junghuhn harus mencari sendiri penerbit baru untuk nukilan berikutnya yaitu “Sosok dan Bayangan”. Karya lainnya yaitu “Kaart van het eiland Java” (1855), terdiri atas 4 lembar dan memuat tentang peta topografis dan peta geologis pulau Jawa.
Bersama dengan istrinya, Johanna Louisa Frederica Koch – putri seorang perwira Belanda –, Junghuhn berlayar ke Jawa dan meninggalkan Eropa untuk selamanya pada 30 Agustus 1855. Di Jawa, Junghuhn mulai mencurahkan waktunya untuk untuk tanaman kina karena J. Karl Hasskarl, kepala budidaya kina di Jawa menyerahkan jabatannya dan kembali ke Belanda. Namun, ia juga melanjutkan kegiatan pengkoleksian dan penelitiannya di bidang botani, geologi, dan klimatologi. Setelah pindah ke Lembang, Junghuhn mulai mendalami ilmu fotografi secara serius. Pada 24 April 1864, Junghuhn meninggal jam tiga dini hari di usianya yang ke-58 tahun. Sebelum meninggal, ia meminta kepada sahabat terbaik yang juga dokter pribadinya, Groneman, untuk membukakan jendela agar dia bisa menatap Tangkuban Perahu dan menghirup udara pegunungan yang bersih.
Kepribadian Junghuhn yang tertutup awalnya sempat membuat ia menjaga jarak dengan penduduk setempat. Namun, Junghuhn merupakan sosok yang sangat mencintai alam. Ia menganggap bahwa alam diibaratkan sebagai seorang wanita yang mempesona dan dia menghargai orang yang menjaga alam tersebut. Hal tersebut dapat kita temukan pada artikel Junghuhn (1844) yang berisi mengenai perbandingan tindak tanduk orang Jawa dengan orang Eropa. Dalam artikel tersebut Junghuhn melihat bahwa kepribadian orang Jawa yang diam dan sangat patuh menjalankan ajaran yang diyakininya bertentangan dengan sifat orang Eropa yang keras dan tidak bisa diam sehingga Junghuhn akhirnya menaruh hormat pada orang Jawa. Selain itu, Junghuhn juga memakai 2 metode penamaan tumbuhan dan metode klasifikasi yang spesifik yang telah dipakai oleh orang jawa jauh sebelumnya.
Penelitian Junghuhn di pulau Jawa, ia fokuskan mengenai geografi gunung berapi dan pengamatannya tentang pengrusakan pulau Jawa oleh kolonial Belanda. Awalnya, ia ingin menerapkan ilmu mikologinya yang dipelajarinya di Sidney, tetapi tidak terlaksana karena Junghuhn terlalu terpesona pada kekayaan tumbuhan segala jenis yang hidup di tanah Jawa. Junghuhn sempat mendaki 43 gunung berapi di pulau Jawa dan menjadi pendaki Eropa pertama. Pengamatan Junghuhn adalah penting karena menawarkan hipotesis baru bahwa gunung berapi terbentuk dengan sendirinya dalam waktu yang lama dengan penumpukan batuan dan lava. Adanya gunung berapi dengan lingkaran kawah yang besar, terbentuk karena adanya kekuatan dari dalam gunung berapi yang sangat besar. Hal ini terjadi di Sumatera, dimana Danau Toba merupakan hasil dari letusan gunung berapi. Namun, berdasarkan fakta-fakta yang Junghuhn dapatkan di lapangan, ia menyimpulkan bahwa kekuatan gunung berapi di masa lalu lebih besar daripada masa sekarang.
Junghuhn merupakan ilmuwan universal karena banyak berkecimpung dalam bidang ilmu pengetahuan seperti botani, meteorologi, geologi, tanpa mendalami ilmunya secara mendalam. Junghuhn tak pernah berhenti menulis semua pengamatan yang ia amati demi tujuan untuk merangkum secara menyeluruh wilayah yang ditelitinya. Pembuatan peta pulau jawa sebenarnya telah dipimpin oleh Raffles karena VOC mulai mengalami kehancuran (1798 – 1812). Kartu yang dihasilkan sangat dekoratif, tetapi tidak akurat. Hal ini, mendorong Junghuhn untuk melakukan pembuatan ulang yang bisa diselesaikan dalam ukuran 79 x 19 m (1885). Prestasi kartografi ini merupakan yang terbesar karena hanya dibuat oleh satu orang. Jika dibandingkan dengan peta yang dibuat Raffles, karya Junghuhn walaupun tidak dekoratif, tetapi lebih tepat dan akurat.
Kompas, azimut, dan teodolit merupakan salah satu alat yang ia gunakan dalam membuat pemetaan. Junghun pernah berdiri di hampir semua puncak gunung di pulau Jawa. Sebagai dasar pembuatan peta, Junghuhn menggunakan dua titik utama yang telah ditentukan. Untuk mendapatkan ketinggian yang pasti dan akurat perlu dilakukan pengukuran pada dua tempat secara bersamaan, yaitu di bagian dasar gunung dan puncak gunung. Ketinggian suatu tempat diukur dengan barometris. Dikarenakan Junghun tidak mempunyai teman yang dapat membantunya maka ia harus berada pada dua tempat tersebut pada hari yang sama agar dapat melakukan penelitian.
Dari hasil pengamatannya, ia berpendapat bahwa jika pulau Jawa dibenamkan 1000 kaki maka dataran pesisir akan hilang. Pembenaman 3000 kaki, Bandung akan hilang. Pembenaman ini dilakukan hingga didapatkan hanya beberapa titik saja yang tertinggal. titik ini menjadi perbandingan tinggi antar gunung di Jawa. Hal ini merupakan cara yang paling brilian pada saat itu. Bagian penting dari karyanya adalah apa yang disebut sebagai “Album Jawa”. Di dalamnya Junghuhn memaparkan bahwa akan terjadi erosi besar-besaran pada Tanah Jawa yang akhirnya kurang lebih 1000 tahun dari prediksinya, kepulauan Jawa menjadi terbenam seutuhnya.
Selain itu, Junghuhn diperintahkan oleh Komisaris Pemerintah Kolonial Belanda, Pieter Markus, untuk meneliti Tanah Batak, tepatnya di sebelah tanah Toba (1840). Tidak ada peneliti sebelum Junghuhn di Pulau Batak. Penduduk hanya mengenal misionaris. Awalnya, para misionaris datang ke pulau tersebut pada tahun 1824, namun hanya dapat kembali tanpa membawa hasil. 10 tahun kemudian, 2 orang misionaris datang ke utara Sibolga dan dibunuh oleh penduduk setempat. Oleh karena itu tidak ada informasi mengenai tanah Batak. Peta terbaik Sumatera saat itu adalah milik William MarsDen yang dikerjakan selama 8 tahun.
Pada awal kehadiran Junghuhn, Tanah Batak masih ditutupi oleh pepohonan dan hutan belantara, sangat berbeda dengan Pulau Jawa. Junghuhn memerlukan jejaring pengukur Trigonometri untuk pengukuran. Jejaring ini digunakan untuk mengukur kota-kota di Jerman dan Inggris. Dengan peralatan sederhana seperti Sextant, ia memulai pengukuran secara triangulasi di kedua titik yang merupakan bukit di Teluk Tapanuli. Ini merupakan pengukuran Triangulasi pertama di Indonesia. Junghuhn melakukan 150 pengukuran triangulasi pada penelitian ini. Junghuhn dibantu oleh penduduk setempat dalam melakukan pengukuran. Selain hutan belantara, Junghuhn juga mendapatkan kesulitan seperti ancaman penduduk, serta penyakit. Penduduk mengira bahwa pengukuran dilakukan untuk pembangunan Benteng, sehingga Junghuhn harus melakukan pengukuran secara sembunyi-sembunyi. Pengukuran dilakukan selain di titik Tapanuli, juga di titik tertinggi di wilayah selatan yaitu puncak Gunung Lubu Radja. Pengukuran di Lubu Radja sangat membantu, namun untuk pengukuran di utara terjadi distorsi. Banyak profil dan sketsa pemandangan yang melengkapi peta buatan Junghuhn ini. Tanah Batak di Sumatera dicetak dalam 6 peta. Dari 5 peta, dibuat peta umum Sumatera Tengah dengan penggambaran yang akurat. Perbandingan dengan Peta Marsden, ada penggambaran wilayah yang lebih sempit pada gambarnya. Rangkaian gunung digambar sedemikian rupa seperti melihat dari kapal, rangkaian di belakangnya seperti fantasi. Yang penting untuk peta selanjutnya adalah deskripsi daerah Mandailing. Peta ini melaporkan peta Danau Toba yang paling awal.
Karya Junghuhn yang paling menginterpretasikan kebudayaan masyarakat Batak secara detail ditulis dalam bukunya yaitu “Folke Kunde (Ilmu Bangsa-Bangsa)” (1847). Orang Batak Toba digambarkan sebagai seorang yang bebas dan tidak mau tunduk kepada raja kampong. Mereka telah memakai sistem parlemen dimana semua keputusan harus dirundingkan terlebih dahulu.Suara semua laki-laki dewasa diperhitungkan, juga suara perempuan yang berpendidikan. sistem aliansi perkawinan batak menjadi sebuah kekuatan untuk mempertahankan kedamaian karena orang Batak harus kawin di luar marganya sendiri, dan sangat pantang untuk merugikan mertua dan keluarganya. Junghuhn menganggap bahwa sistem itu merupakan sistem yang paling bagus di indonesia, melebihi sistem irigasi di pulau jawa. Oleh karena itu, Junghuhn menganggap orang Batak sebagai bangsa yang kebudayaannya sedang mengalami perkembangan walaupun belum setara dengan kebudayaan Eropa, walaupun juga tidak dianggap sebagai kebudayaan yang rendah karena sudah memiliki sistem yang teratur, hukum adat sendiri, dan perundang-undangan yang sangat ditaati oleh penduduk setempat. Selain itu, mereka memiliki kepribadian yang lembut. Adanya penerbitan buku ini dalam bahasa Belanda dan Jerman, membawa dampak yang sangat besar. Salah satunya yaitu seorang peneliti Belanda, van der Toek, mengirimkan seorang ahli bahasa untuk meneliti bahasa batak. Kemudian, seorang keturunan Jerman mengirimkan beberapa misionaris ke Tanah Batak. Awalnya mereka menganggap bahwa ras Eropa adalah jauh lebih tinggi dibandingkan ras yang berkulit lebih gelap, namun setelah membaca laporan Junghuhn, mereka menjadi ragu mengenai ras orang batak. Akhirnya mereka memakai pendapat Junghuhn dengan adanya ras menengah. Hal ini menyebabkan para misionaris yang dikirim ke Tanah Batak tidak lagi menganggap orang Batak sebagai inferior sehingga pendekatan yang dilakukan lebih halus. Misi tersebut akhirnya berhasil.
Selain pembahasan mengenai riwayat hidup Junghuhn dan perjalanannya menyusuri Tanah Jawa dan Tanah Batak, juga dibahas kontribusi Junghuhn dalam pengenalan tanaman Kina di Jawa. Kina yang berasal dari Peru dibawa ke Indonesia diteliti mengandung senyawa quinine yang dapat digunakan sebagai obat malaria yang menjadi penyakit pandemic paling berbahaya yang terjadi di hampir semua negara-negara tropis termasuk Indonesia pada saat itu. Chinchona cahyana (1851) dikembangkan dari biji yang dikoleksi oleh Weddel (Amerika). Junghuhn (1859) menjadi orang pertama yang dapat membuat metode kultivasi dan metode investigasi sistematik. Beberapa spesies kina yang dapat tumbuh di antaranya yaitu C. cahyana, C. pahudianaHoward, dan C. lancitolia.
Simposium dan pameran ini membuat para peserta bisa lebih mengenal siapa sosok Junghuhn dan kontribusinya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Diharapkan kedepannya, karya-karya Junghuhn dapat terus terjaga, tidak hanya menjadi bagian dari masa lalu Indonesia sebagai bagian dari daerah Hindia Belanda, namun dapat dijadikan rujukan sebagai pengingat dini atas bencana lingkungan yang sering terjadi di Indonesia akhir-akhir ini. Informasi mengenai Junghuhn ini sangat penting untuk disebarluaskan. Oleh karena itu, dari pihak Jerman membutuhkan bantuan dari orang Indonesia sendiri. Dokumentasi dari karya-karya Junghuhn dapat diperoleh di Foto Buku di Belanda. Yang masih tidak berubah adalah belum adanya terjemahan dalam bahasa Indonesia sehingga hanya diketahui oleh orang Eropa saja sehingga masih bisa dikatakan sebagai proyek kolonial. Pada saat ini, sudah tidak ada lagi proyek kolonial dan diharapkan kedepannya semua orang terutama masyarakat Indonesia dapat mengetahui informasi ini.
Selain itu, tantangan yang perlu dihadapi mengenai tanaman kina adalah studi lebih lanjut terutama mengembangkan formula quinine yang baru. Hal ini disebabkan kina sebagai obat malaria masih menjadi mimik dalam struktur molekul karena virus malaria selalu membangun mekanisme pertahanan dengan mutasi. Dalam hal ini, SITH menjadi salah satu faktor yang dapat berperan dalam melakukan penelitian mengenai kina tersebut.

Recent Comments